The Fault in Our Stars

April 09, 2014

Painfully Beautiful.

Despite the tumor-shrinking medical miracle that has bought her a few tears, Hazel has never been anything, but terminal, her chapter inscribed upon diagnosis. But when a gorgeous plot twist named Augustus Waters suddenly appears at Cancer Kid Support Group, Hazel's story is about to be completely rewritten.




Begitulah yang terangkum di cover belakang The Fault in Our Stars - Salahkan Bintang-Bintang.  Saat membaca ringkasan cerita di cover belakangnya, awalnya saya berpikr buku ini bakalan menceritakan tentang kehidupan seorang gadis pengidap kanker yang menjalani hari-harinya dengan penderitaan. Bahkan saya sempat berpikir untuk meletakkan kembali buku ini, takut ceritanya klise dan membosankan. Namun, karena iming-iming The New York Times Best Seller, dan juga saya kehabisan buku untuk dibaca pada saat itu, saya memutuskan untuk membelinya.

Dugaan awal saya ternyata salah, buku ini benar-benar luar biasa, saking sukanya, saya sampai membeli lagi English version nya! Dan akhirnya, buku ini pun membangkitkan kembali semangat baca saya yang sempat hilang. Penasaran mengapa? Let's find out!


The Fault in Our Stars menceritakan tentang kehidupan seorang gadis 16 tahun pengidap kanker, Hazel Grace Lancaster, yang merayakan ulang tahunnya dua kali setahun, karena sadar hidupnya tak panjang. Tidak seperti kisah-kisah klise pengidap kanker yang biasa kita temukan di buku lain, John Green memiliki cara sendiri membuat pembacanya terhanyut dan hilang akal.



Kehidupan Hazel Grace yang awalnya membosankan, menjadi berubah total sejak pertemuannya dengan Augustus Waters, atau Gus di Cancer Kid Support Group. Tak seperti penderita kanker di novel-novel lain, Hazel dan Gus sangatlah berbeda. Mereka tak pernah sok-sok kuat melawan penyakit yang mereka idap, tak pernah pasrah dan menunggu kematiannya. Well, bahkan tak jarang mereka menertawakan penyakit mereka dengan memberi nama-nama aneh untuk penyaki yang mengerogoti sepanjang hidup mereka.



Kegemaran Hazel pada buku karya Peter van Houten, An Imperial Affliction mengantar ia dan Gus pada sebuah perjalanan indah di kota Amsterdam, demi menemui sang penulis, Peter Van Houten, yang ternyata jauh berbeda dari yang mereka bayangkan. Amsterdam, menjadi saksi kuatnya cinta kedua remaja pengidap kanker ini.
Namun, hal tak terduga malah datang setelah hari-hari bahagia mereka di Amsterdam.  (I'll stop here as I'm afraid If I go too far and leak the whole story.)


INSIGHTFUL, BOLD, IRREVERENT, AND RAW,
The Fault in Our Stars is award-winning author John Green's most ambitious and heartbreaking work yet, brilliantly exploring the funny, thrilling, and tragic business of being alive and in love.

Secara keseluruhan, The Fault in Our Stars sangatlah menarik, dan juga membuat saya menitikkan air mata lembar demi lembar :') 
Dan novel karya John Green  ini sudah diproduksi menjadi film, yang diperankan oleh Shailene Woodley dan Ansel Elgort, saya yakin mereka akan berhasil membangun chemistry saatu sama lain, melihat peran mereka di film-film mereka seperti Divergent(walau sebagai saudara kandung). Dan kabarnya, The Fault in Our Stars akan tayang di Indonesia mulai 22 Agustus 2014, tergolong sangat lama karena premiere-nya tayang Juni 2014, but still, super can't wait!

Dua kata yang paling tepat untuk menggambarkan The Fault in Our Stars adalah: PAINFULLY BEAUTIFUL

 

You Might Also Like

0 comments